Proyek Jalan GemboTobat Di duga Amburadul, Rian Hidayat: “Ini Kegagalan Pengawasan Dinas PU Bina Marga !”
Kabupaten Tangerang, bintangpos.com.
Proyek APBD 2025, Audit Menyeluruh, CV. Mahardika Artha Gemilang, Dinas PU Bina Marga Jasa Konsultan, Rp 69.897.000, diduga ada Gratifikasi tentang anggaran pelaksana di lapnagn.
Proyek Jalan Gembong–Tobat Diduga Amburadul, Rian Hidayat, “Ini Kegagalan Pengawasan Dinas, ada beberapa dari anggota LSM lembaga Masyarakat spikulasi, bahwa kegiatan peningkatan jalan tersebut.
Aktivis menilai proyek gagal memenuhi standar teknis, mulai dari mutu material hingga pengawasan lapangan yang di nilai lemah dan berpotensi merugikan uang negara.
| Proyek rekonstruksi Jalan Gembong–Tobat yang menelan anggaran Rp 891,5 juta kembali menjadi buah bibir warga.
Bukan karena kualitasnya, tetapi karena dugaan kekacauan pelaksanaannya.
Aktivis YLPK PERARI, Rian Hidayat, menyebut proyek ini bukan sekadar salah urus kontraktor, tapi cermin telanjang gagalnya pengawasan satuan kerja dan lemahnya kontrol dinas.
banner 336×280
Dugaan sejak awal, proses tender hingga penunjukan CV Mahardika Artha Gemilang dinilai janggal.
Rian mengatakan, pejabat lelang, panitia tender, dan pejabat teknis dinas seperti bergerak dalam satu irama memberikan proyek, lalu melepas tanggung jawab.
“Kalau yang memberi proyek saja tidak serius mengawasi, bagaimana publik bisa percaya?” ujarnya.
Di lapangan, gambaran lebih buram. Tanah dasar diduga tidak dipadatkan maksimal, pondasi tidak seragam, dan pekerjaan berlangsung tanpa standar keselamatan yang layak.
“Beginilah jadinya kalau pengawas lapangan hanya hadir di laporan, bukan di proyek,” kata Rian. Ia menegaskan, kesalahan kontraktor hanya satu sisi.
Yang lebih parah adalah pembiaran dari pihak yang digaji negara untuk mengontrol.
Ironis nya, CV Mahardika Artha Gemilang justru di kenal memiliki dokumen yang lengkap: sertifikat K3, ISO, dan keanggotaan GAPENSI.
Namun kelengkapan itu tidak tercermin di lapangan.
“Suratnya berkilau, pekerjaannya kusut. Kalau dinas tetap percaya, berarti ada yang sengaja menutup mata,” sindir Rian.
Ia juga mengingatkan bahwa proyek-proyek perusahaan ini di Kabupaten Tangerang sejak tahun lalu sudah memunculkan masalah yang sama.
“Kok bisa tetap lolos tender? Itu pertanyaan publik yang tidak boleh diabaikan,” tegasnya.
Menurutnya, pola seperti ini bukan kebetulan, tetapi tanda pengawasan yang layu sebelum berkembang.
Konsultan Supervisi pun tidak luput dari kritik.
Dengan pagu jasa konsultansi Rp 69.897.000, hasil Pengawasan dinilai jauh dari standar minimal.
“Dengan anggaran segitu, mestinya bukan Pengawasan ala kadarnya. Konsultan itu mata dinas di lapangan, bukan dekorasi anggaran,” kata Rian.
Ia menyoroti ketidakhadiran kontrol berjenjang dari dinas.
Pejabat teknis di sebut nya lebih sibuk memberi tanggapan singkat ke Timbang turun memeriksa kualitas pekerjaan.
“Kalau pejabat hanya mengenal proyek lewat foto yang dikirim WhatsApp, jangan kaget kalau hasilnya begini.”
Sentilan paling keras ia tujukan langsung kepada Kepala Dinas Bina Marga. “Pak Kadis, turunlah ke lapangan.
Cek sendiri bagaimana anak buah bekerja. Kalau ada yang lalai, bongkar.
Kalau ada yang main-main, copot. Jangan hanya menunggu laporan yang di buat rapi tetapi menipu,” ujar Rian dengan nada tegas.
Menurutnya, ini bukan soal nama baik dinas, tetapi soal keselamatan warga dan penggunaan uang negara.
“Kualitas jalan yang buruk bisa merugikan, bahkan membahayakan. Itu bukan kesalahan teknis; itu kegagalan manajemen,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa semua pihak wajib tunduk pada UU No. 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi dan UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
Kelalaian tidak bisa di Anggap angin lalu.
“Kalau aturan hanya menjadi pigura hiasan di ruangan pejabat, bagaimana publik bisa berharap pembangunan yang beres?”
Rian menutup dengan desakan keras: audit menyeluruh, buka semua catatan pengawasan, dan periksa ulang seluruh proyek yang di kerjakan CV Mahardika Artha Gemilang.
“Ada uang negara, ada tanggung jawab.
Yang bermain harus ditindak, yang lalai harus dibuka ke Publik. Jangan ada yang merasa aman di balik meja.” Tegas nya.
( Bintang Napitupulu)








