Gebrakan Kejagung! Rumah Pejabat Pajak Diobrak-Abrik, Skandal Pajak 2016-2020.


JAKARTA, BINTANGPOS.COM.

Kisruh korupsi pajak kembali menggelegar. Dalam operasi senyap yang di lakukan dua–tiga hari terakhir, Kejaksaan Agung menggeledah rumah dan kantor sejumlah pegawai.

Hingga mantan pejabat puncak Direktorat Jenderal Pajak (DJP).

Aksi besar-besaran ini di sebut sebagai salah satu Operasi pembongkaran skandal perpajakan terbesar pasca kasus Gayus dan Rafael Alun.

Direktur P2Humas DJP, Rosmauli, buka suara. Ia menegaskan DJP menghormati langkah hukum yang tengah di gulirkan Kejagung.

“Kami sepenuhnya menghormati proses hukum yang berjalan Independen. Integritas institusi adalah prioritas,” ujarnya, Selasa, 18 November 2025.

Modus Mengerikan: Tagihan Rp 30 Miliar ‘Dikorting’ Jadi Rp 5 Miliar

Di Jakarta, Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung, Anang Supriatna, membeberkan gambaran modus yang tengah diselidiki.

Tagihan pajak perusahaan yang seharusnya mencapai Rp 30 miliar diduga ditekan hingga hanya Rp 5–10 miliar.

Selisih nilai fantastis itulah yang menjadi ruang transaksi gelap antara wajib pajak dan oknum pegawai pajak.

“Ada kesepakatan, ada pemberian. Itu suap,” tegas Anang.

Pengurangan kewajiban pajak sejatinya sah bila didukung dokumen valid.

Namun penyidik menemukan pola penyesuaian pajak yang tidak didasarkan pemeriksaan objektif, melainkan deal terselubung.

Rumah Mantan Dirjen Pajak Berinisial KD Ikut Digeledah.

Sumber penegak hukum membenarkan bahwa penyidik turut menyasar rumah sejumlah pejabat aktif, pensiunan, termasuk kediaman mantan Dirjen Pajak berinisial KD.

Penelusuran publik mengarah pada Ken Dwijugiasteadi, Dirjen Pajak 2015–2017.

“Penggeledahan dilakukan di rumah dan kantor,” kata Anang.

Belum ada rincian barang bukti yang disita, namun penyidik memastikan perkara ini sudah masuk tahap penyidikan.

Dugaan Keterkaitan Program Tax Amnesty 2015–2020

Informasi awal menunjukkan sebagian temuan diduga terkait manipulasi dalam program tax amnesty 2015–2020.

Kejagung telah memeriksa sejumlah saksi, sebagian didatangi langsung di rumah mereka.

“Sudah ada beberapa saksi diperiksa,” ucap Anang.

Ekonom, Momentum Emas Menkeu Purbaya untuk ‘Bersih-Bersih’ Total.

Ekonom UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menilai penggeledahan ini menjadi titik krusial bagi Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa.

“Ini momentum. Bersih-bersih harus nyata, bukan slogan. Kasus demi kasus, dari Gayus sampai Rafael, menunjukkan godaan di titik fiskus–wajib pajak sangat besar,” katanya.

Ia mengibaratkan sistem perpajakan seperti rumah tua yang dicat ulang, namun tetap lembap di dalam.

Setiap skandal muncul, reformasi dijanjikan, tetapi bertahun-tahun kemudian pola lama kembali berulang.

Ia menyebut Purbaya sebagai kapten baru APBN yang menemukan “mesin pajak yang sudah berkali-kali diutak-atik mekanik nakal”.

“Ketika Kejaksaan masuk ke ruang mesin, ini saatnya ia bongkar total bagian yang busuk,” ujar Achmad.

DJP: Menunggu Keterangan Resmi Kejagung, DJP kembali menegaskan pihaknya tidak menahan informasi.

Tetapi memastikan perkembangan kasus akan disampaikan setelah Kejagung merilis keterangan resmi.

“Kami menunggu informasi resmi dari Kejagung,” kata Rosmauli.

Kasus Resmi Naik Penyidikan, Kejagung menyatakan kasus dugaan korupsi memperkecil kewajiban pajak perusahaan maupun perorangan periode 2016–2020 sudah naik penyidikan.

Anang menegaskan penyidik tidak menutup kemungkinan akan ada penggeledahan lanjutan dan penetapan tersangka setelah bukti dinilai cukup”, Ungkap nya.

( Bintang Napitupulu/ Red)

Berita Terkait

Top
onetag.com, 7cd9d7c7c13ff36, DIRECT